Saturday, 10 March 2018 | 08:51:06 WIB | 334 Pembaca

Karyawan PT.SIS Kena PHK Beberkan Kurang Bertanggung jawabnya Perusahaan

Tenaga Kerja

Foto:

 


Portal Riau (Bathin Solapan) - Pasca di PHKnya sejumlah 49 orang karyawan PT.SIS (Sinar Inti Sawit) yang berada di Dusun Muda, Desa Pamesi, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis, pada 06 Maret 2018 kemarin, kini berbuntut panjang, pasalnya ke 49 orang tersebut akan membongkar kejelekan manajemen perusahaan.

 

Seperti yang dituturkan Basar Nainggolan mantan Security yang di PHK dan juga Ketua SBRI (Serikat Buruh Riau Independen) perwakilan di PT.SIS, bahwa gaji lembur security tidak dibayar, pakaian dinas dan perlengkapannya dibeli sendiri, jaga di pos 1 orang, area jaga 7 hektar (kendaraan, gudang minyak, gudang pupuk, perkantoran, pembibitan dll).

 

"Bila ada kehilangan barang, gaji Security dipotong tiap bulan, klinik perusahaan tidak ada, rumah huni pekerja tidak layak, air minum/bersih bau gambut, bus anak sekolah tidak ada antar jemput, tempat ibadah tidak ada, hari off (libur) tidak ada dalam satu bulan, inilah penderitaan kami selama ini," beber Nainggolan dan didukung Hadi Juanda.

 

Kemudian, Operator mesin listrik Hadi Juanda mengaku digaji Rp.80.270 perhari, waktu kerja jam 6 sore sampai jam 6 pagi, siang jam 7 sampai jam 12, lalu jam 2 sampai jam 4 sore, sudah bekerja dari tahun 2011-2016.

 

"Setelah itu, sejak tahun 2017 hingga 5 Maret 2018 pekerjaan tidak tetap, gaji dikurangi, dipaksa kerja memotong munas pelepah pohon sawit, sebanyak 75 pohon perharinya, peralatan pemanen beli sendiri seperti, agregat/alat dodos sawit, sepatu, helem dan sebagainya ( karena tidak ada dari perusahaan)," ungkap Hadi dan didukung Nainggolan.

 

Lanjutnya lagi, mandor dan kerani sebagian ada dikasih uang makan Rp. 600 ribu perbulan, yang lain tidak ada.
Perobatan keluarga bayar sendiri, seperti pernah istri saya melahirkan, biaya tanggung sendiri tahun 2016 di bidan desa, Desa Harapan Baru.

 

"Ada lagi, istri Kusmanto (bagian pemanen) tenggorokan dan gusi bengkak, dibawa ke RSUD Dumai biaya Rp.6 juta, setelah diberikan kwitansi kepada manajemen perusahaan, tidak ada dibayar, padahal Kusmanto sudah 4 tahun bekerja," ungkap Hadi lagi dan didukung Nainggolan.

 

" Kemudian, Istri dari Suryanto Sipayung (pekerja pemanen), sakit kanker payudara, bulan Januari 2018 lalu mau dibawa ke RSUD Dumai untuk operasi, namun pihak perusahaan tidak mau bertanggungawab, alasan perusahaan bahwa Suryanto Sipayung termasuk BHL (buruh harian lepas), akhirnya pihak keluarga membawa istrinya berobat ke kampung dengan biaya dari orangtua, Suryanto juga sudah bekerja 4 tahun di perusahaan.Iwan Sitepu yang meninggal pada saat bekerja di perusahaan diberi cuma 13 juta, dan diberi manajer hanya 11juta," jelas Hadi dan Nainggolan.

 

Sedangkan Ketua Umum DPP SBRI Agen Simbolon mengatakan, kalau kehadiran DPP SBRI di Riau ini sepertinya sangat tidak disenangi oleh pihak perusahaan, sehingga bisa semena-mena memperlakukan buruh.

 

"Pelanggaran-pelanggaran perusahaan seperti inilah yang mau diperbaiki SBRI, sehingga perusahaan merasa terganggu atas kehadiran SBRI," ujar Simbolon.

 

Menejer PT.SIS Ir.A.Ginting ketika dikonfirmasi melalui nomor WAnya, tidak mau berkomentar banyak terkait masalah tersebut, hanya dijawabnya," masalah pembayaran bukan menejer tetapi KTU," sebutnya, Jumat (09/03/18).(Ser).