Populer
Friday, 05 May 2017 | 10:29:23 WIB | 370 Pembaca

Berikan Contoh Yang Baik, Koramil 03/Tempuling Dan Persit Panen Cabai Dari Pekarangan Sendiri

pertanian

Foto:

PORTAL RIAU, INHIL -- Tempuling  Jika ada kemauan, di sana ada jalan, sebuah peribahasa yang sederhana, tetapi jika dilakoni dapat membawa keberuntungan. Hal itu dapat dipraktikkan bagi siapa saja. Sebagai contoh untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari akan bumbu masak seperti cabai, Terong dan lainnya; dapat ditanam di pekarangan rumah. Anggota Koramil 03/Tempuling telah mempraktekan penanaman Cabe dan Terong meskipun koramil  tidak memiliki pekarangan, hal itu dapat dilakukan di pot.

                                              

Kegiatan tersebut sedang digalakkan Pemerintah dan Pimpinan TNI dengan membudayakan warung hidup dari menanam sayuran seperti cabai, tomat, terung, dan lain2nya. Budaya tanaman warung hidup ini juga terlihat di lingkungan TNI seluruh Kab Indragiri Hilir. Apabila di sejumlah kantor Pemerintah Daerah Inhil terdapat banyak tanaman hias atau bunga di pekarangannya, kantor Jajaran Kodim 0314/Inhil tidak demikian melainkan dihiasi dengan Tanaman Cabe. 

 

Jika mengelilingi Kantor dan perumahan Koramil 03/Tempuling bagian Depan, Samping sederet pohon cabai tumbuh subur dengan buahnya yang terlihat segar. Ini contoh bagi masyarakat agar kreatif memanfaatkan pekarangan yang terbatas. Dalam rangka inilah, Danramil 03/Tempuling Kapten Arh Sugiyono melakoni kegiatan menanam cabai.

 

Danramil 03/Tempuling Kapten Arh Sugiyono menyampaikan Ternyata di samping memberikan pemandangan yang asri dan menyejukkan, warung hidup juga memberikan banyak manfaat. Tanaman warung hidup minimal bisa dikonsumsi sehingga mengurangi biaya belanja dapur atau untuk membantu Rumah tangga. 

 

"Kalau banyak masyarakat  yang pekarangannya memiliki warung hidup maupun warung sehat, ini membuat kesan tersendiri bagi warga luar yang berkunjung ke Daerah ini," ucapnya saat panen cabai, Sabtu (29/04/17).

 

Pada kesempatan itu, Danramil mengatakan, dengan menanam tanaman kebutuhan pokok seperti cabai, tomat, sayuran, dan tanaman obat, Anggota Koramil tidak akan terpengaruh gejolak inflasi. "Bahkan ini memudahkan kita memenuhi kebutuhan apabila terjadi kelangkaan dari salah satu bahan pokok yang sangat dibutuhkan," ujarnya. 

 

Ny Yuli Sugiyono Ketua Persit KCK Ranting IV Koramil 03/Tempuling Kodim 0314/Inhil menyampaikan, kenaikan harga cabai hingga mencapai Rp 80.000 per kilogram (kg) tidak perlu dikeluhkan ibu-ibu apabila mau membudayakan warung hidup.

 

Ny Yuli Sugiyono menyampaikan  agar budaya warung hidup terus dijalankan dengan menanam cabai dan jenis sayuran lainnya menggunakan media tanam polybag atau pot, hingga kini kegiatan tersebut masih belum banyak diminati warga. 

 

Padahal ia memaparkan, Koramil 03/Tempuling telah memberikan contoh kepada warga untuk selalu menanam di pekarangan. Ia juga bertekad mengoptimalkan produktivitas pekarangan rumah sebagai salah satu upaya mengatasi berbagai kebutuhan pokok ekonomi, khususnya tanaman pangan di samping program Pajale yang sudah berjalan di Jajaran Kodim 0314/Inhil.

 

Di pasaran, ternyata saat ini harga cabai meroket. Itu terjadi setelah harga daging sapi dan ayam potong (broiler) belum stabil mengingat bulan Puasa sudah dekat. Kini giliran pedagang cabai mulai mengeluh. Pasalnya, harga cabai rawit di seluruh pasar tradisional di Kota Tembilahan sudah menembus Rp 80.000 per kg. Padahal, harga normalnya Rp 35.000 per kg. 

 

Pihak yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat golongan menengah ke bawah. Cukup banyak ibu rumah tangga uring-uringan ketika uang belanja dapur tidak cukup membeli kebutuhan pokok sehari-hari.

 

Harga cabai rawit yang sudah selangit memberikan kesulitan. Biasanya hal itu lebih dirasakan ibu rumah tangga. Belanja cabai setengah kilogram untuk kebutuhan dapur dengan harga Rp 15.000 menjadi Rp 40.000 per kg tentu sangat dikeluhkan para ibu-ibu. 

 

"Biasanya beli cabai Rp 10.000 sudah cukup untuk kebutuhan dapur selama dua sampai tiga hari. Tapi sekarang, untuk sekali masak itu kurang. Kadang suami saya pun kurang percaya apabila uang belanja yang diberikan jauh dari cukup seperti biasanya," kata ibu Irusanti. Warga sungai salak Kecamatan Tempuling. (DPR)