Thursday, 01 February 2018 | 17:12:17 WIB | 120 Pembaca

Pengembangan Techno Park Pelalawan Berbasis Berbasis Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Inovasi  

Ekonomi

Foto:

 

 

PELALAWAN.portalriau.com---JAKARTA, Enam lembaga dari unsur pemerintah dan asosiasi menandatangani MOU “Pengembangan Techno Park Pelalawan Berbasis Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Inovasi (Iptekin) Kelapa Sawit Ramah Lingkungan”, dalam Pembukaan Raker BPPT Tanggal 31 Januari 2018, di Auditorium Gedung BPPT Jakarta. Enam lembaga ini antara lain Pemerintah Kabupaten Pelalawan, BPPT, PT PINDAD (Persero), PT Rekayasa Engineering, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), dan Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI).


Disebutkan bahwa MOU ini bagian dari kesepahaman bersama atas kolaborasi antar instansi/lembaga sebagai langkah awal untuk melaksanakan kebijakan pembangunan techno park Indonesia. Kebijakan pembangunan Techno Park merupakan bagian dari program Nawa Cita Presiden RI Joko Widodo, sebagaimana telah dituangkan dalam RPJMN Tahun 2015-2019.


Keberadaan Techno Park dapat mengembangkan riset-riset yang hasilnya dihilirkan ke dunia industri untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mendukung peningkatansaing daerah melalui upaya pembangunan daerah yang lebih progresif, inklusif, dan berkelanjutan.


Techno Park Pelalawan merupakan salah satu dari techno park yang dikembangkan di Indonesia. Techno Park ini terletak di Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Techno park ini mempunyai luas 3.748 hektar, terbagi dalam 7 zonasi (dimana 60 % merupakan zona konservasi), sehingga terdapat 1.520 hektar yang dapat digunakan untuk aktivitas Techno park.


Model Revitalisasi petani sawit skala kecil ini akan dikembangkan di Techno Park Pelalawan, Provinsi Riau. Pemilihan lokasi ini disebabkan bidang fokus Techno Park ini adalah Pengembangan Inovasi di Industri Hilirisasi Sawit.


Disamping revitalisasi pertanian kebun sawit skala kecil, terdapat beberapa produk inovasi yang direncanakan akan dikomersialkan di Techno Park ini antara lain adalah :

1. Bioplastik dari Tandan Buah Kosong (TBK) sawit, dikembangkan oleh Pusat Penelitian Bioteknologi dan Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI);

2. Algae (gangang), dibudidayakan menggunakan Limbah Cair Kelapa Sawit (Palm Oil Mill Effluent=POME) yang dikembangkan oleh Dosen/Peneliti dari Universitas Riau, MAKSI dan Jepang;

3. Pellet dari Tandan Buah Kosong (TBK) sawit; sebagai bahan baku bagi Pembangkit Listrik Mini di berbagai desa di Kabupaten Pelalawan dan pengolahan TBK menjadi produk bernilai tinggi lainnya.


Pelalawan dipilih karena menguasai 50% dari total areal kebun. Diperkirakan jumlah petani kecil berkisar 40.315 KK dengan luas lahan 119.131 hektar. Sejak tahun 2009, petani sawit skala kecil (smallholder) sudah menjadi produsen yang dominan di Indonesia.(rls/md)