Populer
Sunday, 28 January 2018 | 20:03:12 WIB | 141 Pembaca

Perjalanan H.Suyatno di Riau

Sosial Dan Budaya

Foto:

TIDAK ada seseorang anak manusia pun yang bisa menduga nasib dan perjalanan hidup orang lain. Termasuk juga perjalanan hidup H. Suyatno AMP, yang sejak beberapa tahun belakangan dipercaya menjabat sebagai Bupati Rokan Hilir, berpasangan dengan Drs. H. Djamiluddin untuk posisi wakil bupati.

Mulai masuk ke lingkungan birokrasi pemerintahan dengan menyandang golongan kepangkatan II/a, perlahan tapi pasti jenjang karier Suyatno sebagai seorang birokrat terus menanjak naik. Puncaknya, ia dipercaya menjadi Wakil Bupati Rohil, mendampingi Annas Maamun untuk posisi bupati. Posisi ini pula yang menjadi "pintu masuk" bagi Suyatno untuk menjadi kepala daerah dengan menjabat sebagai Bupati Rohil.

Dilahirkan di Kabupaten Bengkalis pada 21 Juni 1957, Suyatno memulai kariernya sebagai pegawai negeri sipil dengan menyandang golongan kepangkatan II/a pada Kantor Kesbangpol Kabupaten Bengkalis. Pada 1985, ia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tugas belajar di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri Riau di Pekanbaru. Setamatnya dari APDN, Suyatno mendapat kepercayaan untuk mengisi jabatan Lurah Kota di Kecamatan Bangko (Bagansiapiapi), yang saat ini sebagai Ibukota Kabupaten Rokan Hilir.

Melihat potensi yang dimilikinya dalam menyiapkan berbagai acara yang relatif tergolong besar, Bupati Bengkalis yang kala itu dijabat oleh H. Azali Johan mempercayakan posisi sebagai Kepala Sub Bagian Analisa Kebutuhan, Bagian Umum pada Sekretariat Daerah Kabupaten Bengkalis pada Suyatno.

Era reformasi datang, yang di antaranya melahirkan undang-undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pemekaran Kabupaten. Kabupaten Bengkalis termasuk salah satu daerah otonom di Provinsi Riau yang mengalami pemekaran, yaitu menjadi tiga kabupaten otonom baru, masing-masing Kabupaten Siak dan Kabupaten Rohil. Terakhir Kabupaten Kepulauan Meranti juga terlahir dari "rahim" Kabupaten Bengkalis.

Kabupaten Rohil yang baru terbentuk dipimpin oleh Pjs Bupati H. Wan Syamsir Yus. Sang Pjs Bupati kemudian meminta kesediaan Suyatno memperkuat struktur Pemerintah Kabupaten Rohil dengan posisi sebagai Kepala Bagian Umum dan Perlengkapan pada Sekretariat Daerah Kabupaten Rohil. Selain dari tugas pokoknya di Bagian Umum, Suyatno juga diminta kesediaannya untuk memperhatikan dan membimbing kegiatan-kegiatan bagian lain pada Sekretariat Daerah Kabupaten Rohil.

Setelah sejumlah posisi dipercayakan kepada Suyatno di lingkungan Setdakab Rohil, Bupati Rohil yang kala itu dijabat oleh H. Wan Thamrin Hasyim (kini Wakil Gubernur Riau) menugaskan Suyatno untuk menjabat sebagai Camat Bagan Sinembah. Inilah kali ini pertama sejak jadi PNS, Suyatno bertugas di luar lingkungan sekretariat daerah.

Tentu bukan tanpa alasan untuk memberikan posisi sebagai Camat Bagan Sinembah kepada Suyatno. Semuanya didasarkan pada pertimbangan mencermati keberadaan Kecamatan Bagan Sinembah, dengan komposisi penduduknya yang sangat heterogen dan berpotensi terjadinya gesekan-gesekan dan konflik antarkelompok masyarakat, maka diperlukan sosok seorang pimpinan pemerintah kecamatan yang mudah diterima oleh berbagai kelompok dan golongan. 

Suyatno saat itu dinilai sebagai sosok yang dinilai paling pas untuk menjawab persoalan dimaksud.
Usai sukses mengemban tugas sebagai Camat Bagan Sinembah, Suyatno kembali ditarik ke "dalam" alias ke lingkungan sekretariat daerah dengan jabatan sebagai Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat di lingkungan Sekdakab Rohil.

Lama malang-melintang menjalankan sejumlah kepercayaan sebagai pejabat daerah, ditambah dengan basis keilmuan yang cukup memadai, plus kepribadiannya yang tergolong menarik dan gampang bergaul serta diterima semua kalangan; tidak heran bila sosok Suyatno makin diperhitungkan, terutama di lingkup Pemkab Rohil.

H. Annas Maamun, Ketua DPRD Rohil yang berniat maju di ajang pemilihan kepala daerah Rohil 2006, menggandeng Suyatno untuk maju di ajang pesta politik tingkat lokal itu,  dengan posisi: Annas sebagai calon bupati dan Suyatno sebagai calon wakil bupati  untuk periode 2006-2011. KPU Rohil kemudian menetapkan pasangan Annas-Suyatno sebagai pemenang Pilkada Rohil 2006, mengungguli empat pasang kandidat lainnya.

Pada 2011, Pilkada kembali digelar di Rohil, dan Annas-Suyatno kembali maju dalam satu paket pencalonan. Ketika di banyak daerah kepala dan wakil kepala daerah terlibat konflik di tengah masa jabatan, Annas-Suyatno tetap mampu menunjukkan harmonisasi yang membanggakan sehingga memutuskan untuk kembali maju di ajang Pilkada Rohil. Lagi-lagi KPU Rohil menetapkan Annas-Suyatno sebagai bupati dan wakil bupati Rohil, kali ini untuk periode  2011-2016.

Karena atasannya, Annas Maamun, maju di ajang Pemilihan Gubernur Riau 2013, kemudian dinyatakan terpilih sebagai Gubernur Riau periode 2013-2108, untuk mengisi kekosongan Kementerian Dalam Negeri menetapkan Suyatno sebagai Plt Bupati Rohil, yang ia jalani sejak 19 Februari 2014 hingga 24 Maret 2014. Pada 24  Maret 2014, Suyatno dilantik dan diambil sumpah jabatannya sebagai Bupati Rohil definitif. 

Pada ajang Pilkada Rohil 2016, Suyatno memutuskan maju sebagai calon bupati, dengan Djamiluddin sebagai calon wakil bupati. Pasangan Suyatno-Djamiluddin dengan gemilang berhasil memenangkan pertarungan, dan dipercaya untuk memimpin daerah itu sampai tahun 2021 mendatang.

Merujuk ke belakang, Suyatno menjalani masa pendidikan dari jenjang SD sampai SMA di tanah kelahirannya, Bengkalis. Pendidikan dasar, SD, ditamatkan pria penyuka olahraga bola voli ini pada tahun 1970 di Bengkalis, SLTP tahun 1973 di Bengkalis, dan SLTA tahun 1976, juga di Bengkalis. Sementara pendidikan tinggi kepamongan, APDN, dijalani Suyatno di Pekanbaru, dan ditamatkan di tahun 1989.

Profil Calon Wakil Gubernur Riau Suyatno: Lahir dan Dibesarkan di Lingkungan PNS
Suyatno bersama keluarga.

Manajemen Partisipatif
Suyatno menjelaskan, dalam menjalankan kapasitasnya sebagai salah seorang pemimpin daerah, ia lebih cenderung menerapakan manajemen partisipatif, yang memberi ruang yang luas bagi semua komponen masyarakat untuk ikut ambil bagian dalam urusan pembangunan, pemerintahan, dan kemasyarakatan. “Karena pemerintah memiliki sumber daya yang amat terbatas untuk memikul semua beban rugas itu,”  ia menerangkan.

Tidak mudah menjalankan manajemen seperti itu, memang. Di saat tingkat apatisme masyarakat cenderung makin tinggi terhadap persoalan-persoalan pemerintahan, bagaimana pula merangkul anggota masyarakat untuk ikut ambil bagian secara aktif? Tapi Suyatno menafikan hipotesa itu. Dikatakan, selagi masyarakat merasakan manfaat langsung dari proses pembangunan, maka pada saat bersamaan dinicayakan akan muncul panggilan moral untuk ikut ambil bagian.

“Sejatinya aparat pemerintah itu adalah pelayanan masyarakat,” tambahnya. Namanya saja pelayan, ungkap Suyatno, aparat harus paham tentang apa-apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. 

“Jangan mentang-mentang kita aparat, lalu menyusun program sesuka hati tanpa memedulikan kebutuhan masyarakat, ini hanya akan membuat jarak yang lebar antara rakyat dan aparat pemerintah,” tambahnya.

Makanya, menurut Suyatno, menjadi pemimpin haruslah didasari atas panggilan moral dan mengabdikan diri kepada negara, agama dan masyarakat. "Menjadi pemimpin itu merupakan sebuah tugas yang mahaberat, karena begitu banyak harapan rakyat yang tergantung pada kita,"  ujarnya, suatu ketika. 

Tapi menjadi tidak berat, menurut Suyatno, bila dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin dilaksanakan dengan penuh ikhlas, dan segaala yang dilakukan didedikasikan untuk kepentingan daerah dan masyarakat.

"Pertanggungjawaban sebagai pemimpin tidak hanya di dunia, gtapi juga sampai di akhirat," tambahnya. Makanya, imbuh Suyatno, selagi ia dipercaya mengemban amanah sebagai pemimpin bagi sekian banyak orang, maka selama itu pula ia akan berusaha tetap berjalan di atas rel yang benar. 

"Kalau salah dan khilaf, saya juga tidak menutup diri untuk kritikan," tambah suami Hj. Wan Mardiana, yang telah memberinya sejumlah anak: Arie Sumarna, Ade Sumarna, dan Tiara Sumarna. (rs1)