Thursday, 14 December 2017 | 16:36:17 WIB | 497 Pembaca

MIRIS... DINAS KESEHATAN HANYA LAYANGKAN SURAT TEGURAN SIKAPI KASUS HILANGNYA NYAWA BAYI.

pemerintahan

Foto:

Siak(Portalriau.com) Kabupaten Siak Kabupaten layak anak, kalimat ini sepertinya hanya sekedar letorika semata. Hal ini dikuatkan dengan kasus yang baru baru ini menimpa keluarga Fuji Efendy Saragih, Warga Kabupaten Siak Kecamatan Kandis tepatnya tertanggal 13 November 2017. Awak media ini menerima keluh kesah keluarga ahli musibah saat berkunjung kerumah duka. "kronologis lengkapnya begini, Pada Sabtu, 4 November, sekira pukul 23.30an WIB, saya beserta istri berkunjung ke tempat praktek bidan RL dikarenakan istri sudah ngeluh sakit sakit. Kemudian kami memutuskan kembali pulang karena bidan setelah memeriksa menyatakan belum ada pertanda akan melahirkan.


Pada Ahad, 5 November, sekira pukul 19.00an WIB, Istri saya mengeluarkan pertanda berupa lendir berwarna bening disertai darah yang saya kenali sebagai pertanda akan melahirkan tetapi kami tidak menyegerakan berkunjung ke tempat praktek bidan. Sekira pukul 21.30an WIB baru kami berkunjung dan setelah dilakukan pemeriksaan, dinyatakan bahwa sudah buka 2. Alhamdulillah, bayi kami lahir pada Senin, 01.30an WIB dengan berat 4,2Kg  walau tanpa tangisan selama 5 hingga 10 menit dalam keadaan membiru bahkan hingga ke ujung kuku tangan dan kuku kaki. Pada pukul 09.00an kami kemudian memutuskan untuk membawa pulang ke kediaman.

 


Pada hari jumad atau sabtu (10/11), saya tak ingat pastinya, istri saya menghubungi bidan RL untuk datang kerumah dikarenakan bayi kami mengalami susah bernapas, setelah bidan datang si bayi dinyatakan tersedak ASI padahal selama dari hari kelahiran si bayi sangat sulit untuk minum ASI. hal ini juga kami sampaikan pada sang bidan hingga kami disarankan untuk membeli pompa asi juga semacam selang pendek yang bisa langsung untuk menyuap ASI ke bayi. Di sini, kami sudah berulang kali mempertanyakan apakah si bayi sudah benar benar bersih dari ketuban yang mana tahu sempat terminum selama di jalan sewaktu hendak melahirkan karena si bayi selalu ngorok halus dan sang bidan selalu meyakinkan kami bahwa bayi sudah sangat bersih.

 


Pada senin, 13 November sekira pukul 03.00 WIB, saya tersentak karena mendengar si bayi merengek, langkah saya kemudian memeriksa si bayi memastikan lagi buang air atau tidak kemudian saya serahkan pada bunda nya untuk minum ASI. si bayi tetap tak mau minum ASI, selalu merengek tapi tidak menangis. Hingga pukul 07.00 WIB, istri saya menghubungi bidan RL untuk kembali menyampaikan keluhan kami namun si bidan tak kunjung tiba hingga akhirnya sekira pukul 10.00 WIB, kami putuskan untuk berkunjung ke tempat praktek bidan RL. 

 

Sesampainya kami di klinik, bidan kemudian menyarankan kami untuk merujuk ke duri saja, dan beliau tetap menyatakan tidak apa apa tapi mana tau ada kelainan yang di tambahkan oleh sang suami bidan dengan saran membawa ke orang pintar. Saya putuskan kemudian untuk membawa pulang kerumah dan berkata pada istri jika sampai besok tidak ada perubahan baru kita bawa ke Duri. Menantikan hari esok seperti yang kami rencanakan, saya berinisiatif menapeli perut bayi dengan daun jarak. Setelah saya selesai tapeli, saya kemudian berangkat menjemput anak saya yang sekolah PAUD di Pasar minggu dengan jarak tempuh dari rumah maksimal 10 menit berkendara. Namun naas tak dapat di elak, sepulang saya istri saya menyatakan bayi kami memuntahkan cairan berwarna kuning. Kemudian saya pangku, dan saya sadari saat itu bahwa kami sudah kehilangan bayi kami (Hal ini saya yakini karena di pangkuan saya berat bayi seakan sangat ringan), tapi saya tetap berusaha memberikan napas buatan dan di saat bersamaan, perawat nya bidan laban datang dengan niat hendak memandikan bayi. Bayi kami kemudian di pangku oleh perawat tersebut seraya menelpon bidan RL, meminta untuk datang dan saya tetap memberikan napas buatan namun bayi saya tetap tak terselamatkan, saat saya memberikan napas buatan dari hidung bayi keluar cairan berwarna kuning campur gumpalan gumpalan berwarna putih seperti lemak dan hal ini juga disaksikan oleh perawat bidan RL. Bahkan saat zenajah dimandikan cairan berwarna kuning tersebut tetap keluar" papar Ayah almarhum bayi dengan mata berkaca kaca.

 

Ibu sang almarhum bayi menambahkan rasa kesal akan pelayanan yang diberikan oleh bidan RL tersebut. "kalau saja sejak awal sang bidan sarankan untuk merujuk ke Duri, Mungkin anak saya selamat namun sang bidan tak merasa bersalah dengan mengatakan kenapa setelah 6 jam baru dibawa ke tempat praktek nya, padahal beliau dihubungi dari pagi dan tak kunjung tiba dan posisi anak saya masih belum putus tali pusat yang dalam arti kata masih tanggung jawab penuh oleh bidan RL" pungkas Ibunda almarhum bayi.

 

Atas meninggalnya pujaan hati mereka, keluarga Fuji Efendy Saragih sepakat untuk mengikhlaskan kepergian sang anak ke hadapan Ilahi namun disamping itu berharap agar kiranya pihak terkait dalam hal ini Dinas kesehatan dapat memberikan sanksi tegas pada oknum bidan dimaksud demi menghindari jatuhnya korban lain.

"jodoh, maut dan rejeki kan sudah ketentuan Sang Kuasa, kami ikhlas namun untuk menghindari korban korban selanjutnya, semoga pihak dinas dapat mengambil langkah tegas atas hal ini karena setelah pihak dinas menerima informasi, kami selalu dikunjungi oleh bidan koordinator Puskes sebanyak dua kali dan sekali kunjungan oleh Dinas Kesehatan Siak melalui Pak Muhammad Taib juga Bapak Arija Amra selaku Kasi Kesehatan ibu dan anak. Namun sebulan kemudian kami terima kabar bahwa Praktek Bidan RL hanya menerima surat teguran yang kami sendiri selaku keluarga tidak diperbolehkan mengetahui akan isinya" tambah Ayah Almarhum Bayi.

Terkait hal ini, Dinas Kesehatan Siak sendiri melalui Kasi kesehatan ibu dan anak, dr Arija Amra, menyatakan dugaan indikasi penyebab meninggalnya bayi adalah suspect aspeksia berat."Kalau secara pribadi bisa saya praduga penyebab meninggalnya Suspect Aspiksia berat. Itu harusnya ditegakkan dengan Outopsi" ujar dr Arija via aplikasi whatsapp. KMenyikapi hal ini keluarga ahli musibah berharap agar kiranya Dinas dapat memberikan sanksi yang lebih tegas mengingat akan dugaan kuat kelalaian oknum bidan telah membawa petaka bagi Masyarakat.(Robot/Pendi)