Thursday, 22 October 2020 | 06:23:06 WIB | 24 Pembaca

Santri Labuhanbatu: Mengisi Kemerdekaan, Memaknai Ulang Arti Kata Jihad

Pendidikan

Foto:

 

Oleh ; Irwan Indra STP.,MM, (Calon Wakil Bupati Labuhanbatu)

Labuhanbatu, portalriau.com- Sejak pertama kali ditetapkan pada tahun 2015, hari santri nasional yang diperingati pada 22 Oktober selalu jadi gegap gempita tersendiri, yang itu semua penting untuk kita rayakan dan maknai.

 

Pun sama dengan tahun ini, meski harus ada penyesuaian akibat Pandemi Covid-19. Tapi spirit kita tetap tak boleh luntur.

 

Tanggal 22 Oktober dipilih sebab merujuk pada satu peristiwa bersejarah, yakni seruan pahlawan nasional, KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945, tentang  perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara sekutu (Inggris) yang ingin menjajah dan merebut kembali wilayah Indonesia atas pendudukan Jepang.

 

“..Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap oerang Islam..."

 

Kata KH. Hasyim Asy’ari, dalam ejaan lama. Seruan nya itu kemudian kita kenal dengan kata : Resolusi Jihad. Kita tahu, akhir dari cerita itu, bangsa Indonesia lewat sebagian besar kalangan santri berhasil membuat Inggris angkat kaki dari tanah air.

 

Kisah itu bisa kita baca di banyak buku. Atau dalam bentuk film bisa ditemui dalam penggalan  film "Sang Kiai".

 

*Mengisi Kemerdekaan, Memaknai Ulang Kata Jihad dan Santri *

 

Hari santri nasional adalah momentum untuk mempertegas peran santri, baik sebelum atau sesudah masa kemerdekaan. Jika dulu santri harus mengangkat senjata karena dalam konteks perang lawan penjajah.

 

Maka saat ini, kita yang telah menikmati hasil jerih payah kemerdekaan itu

 

harus memaknai santri dalam konteks kesunguhan tekad dalam meneguhkan prinsip keislaman dan keindonesiaan. Santri  ialah pionir perdamaian yang berorientasi pada spirit moderasi Islam.

 

Santri memiliki akar yang religius sekaligus memiliki nasionalisme tinggi. Mereka Islam, sekaligus juga Indonesia. Dengan begitu, jika kita tarik ke dalam makna jihad. Dalam konteks kekinian jihad para santri bukanlah lagi jihad bambu runcing, mengangkat senjata, dan jalan-jalan penuh darah.

 

Tetapi jihad para santri ialah yang bergelut di wilayah fikrah (pemikiran), aqidah (keyakinan), harakah (gerakan) dan amaliyah (tradisi).

 

Jihad santri ialah dengan menjaga Islam dan menjaga Indonesia, bukan justru merusaknya. Santri tidak akan berselingkuh dari ideologi Pancasila. Maka profil ideal dari seorang santri, ialah perpaduan antara religoius-nasionalis.

 

 

 

Tapi yang kemudian timbul jadi pertanyaan baru : apakah santri itu kata sifat atau kata benda?

 

Apakah sebutan santri hanya melekat pada mereka yang menempa diri di pondok pesantren, dengan jenjang dan kurikulum agama yang ketat? Apakah santri adalah kata yang ekslusif?

 

Saya pribadi berpandangan, hari ini, terminologi santri harus kita maknai tidak sebatas pada hal-hal yang saya singgung di atas.

 

Santri ialah mereka yang memiliki semangat sebagaimana yang terkandung dalam Resolusi Jihad, yakni para anak bangsa yang memiliki komitmen teguh atas keislaman dan keindonesiaan.

 

Dalam arti kata lain, keislamannya tidak melunturkan rasa ke-Indonesia-an. DanDan sebaliknya ke-Indonesia-annya dibangun atas dasar keislamannya ya h teguh. Relasi antar keduanya sangat erat. Tidak saling menafikan.

 

Jika kita ingin memaknai lebih dalam lagi, maka seperti itulah sesungguhnya santri itu.

 

 

 

*Santri Labuhanbatu*

 

Jumlah santri di Indonesia jutaan, dan di Labuhanbatu saya mencatat ada banyak pondok-pondok pesantren tempat para santri mencari ilmu dan keberkahan hidup.

 

Beberapa diantaranya, pondok pesantren Darush Sholihin, Imam Syafi'i, Al Washliya, Darul Muhsinin dan masih banyak lagi.

 

Pondok-pondok pesantren itu harus kita tilik secara rutin, tunjang fasilitas dan apa-apa saja yang mereka butuhkan, harus ada pengupayaan.

 

Ini penting, sebab ruh Labuhanbatu boleh jadi mengalir dari hapalan Qur'an para santri, dari darasan kitab yang mereka selesai dan amalkan. Dari doa-doa para kiai, ustadz, alim ulama.

 

Tanpa pesantren, bangsa ini perla