Masih Ada Tujuh Program Sugiyarno Sebelum Tinggalkan Dishutbun
PASIR PANGARAIAN- Pada saat menjabat Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Sugiyarno.SP, dirinya sudah menyusun tujuh program bidang kehutanan dan perkebunan.
Namun sayangnya, sebelum ketujuh program itu dilaksanakan dalam rencana kerja tahun ini, dirinya dipromosikan sebagai Staf Ahli Bupati Rohul pada Jumat (2/1/2015) lalu.
Sugiyarno berharap, ketujuh program kehutanan dan perkebunan yang sudah disusunnya agar dilanjutkan penggantinya, Sri Hardono yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Rohul.
“Saya berharap, agar program-program yang sudah disusun bisa ditindaklanjuti Bapak Sri Hardono,”harap Sugiyarno di kantornya, Senin (12/1/2015) sore kemarin.
Dimana untuk ketujuh program yang sudah disusun Sugiyarno yakni, penekanan pengawasan daerah rawan kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla. Yakni lebih memaksimalkan petugas dalam pengawasan daerah rawan kebakaran.
Kemudian, melanjutkan penangkapan perambah kawasan Bukit Suligi di Kecamatan Tandun dan Desa Aliantan Kecamatan Kabun.
Selanjutnya, menindaklanjuti program pembuatan parit gajah di sekeliling kawasan Rawa Seribu Mahato di lahan seluas 3.700 hektar dengan kedalaman 3 meter dan lebar lebar 2 meter. Parit itu upaya mengembalikan fungsi kawasan Hutan Produksi Terbatas sebagai areal konservasi ikan arwana.
Lalu, dirinya juga punya program dalam pengembangan lebah madu di sejumlah desa dekat kawasan hutan. Seperti sudah dilakukan di Desa Pasir Agung, Kecamatan Bangunpurba yang bekerjasama dengan perusahaan akasia PT Sumatera Silva Lestari.
Sedangkan dibidang perkebunan, Sugiyarno miliki rencana menaikkan fluktuasi harga karet dengan mengacu kualitas produksi dengan meningkatkan K3 (kadar karet kering), yakni menggunakan asam semut. Dia juga programkan mengintensifkan pergantian bibit karet palsu dengan bibit yang telah bersertifikat dan berkualitas serta telah mendapatkan rekomendasi dan penelitian.
Kemudian memperluas dan memperpanjang, jalan produksi yang diprioritaskan pada sentral produksi karet perkebunan dan kelapa sawit. Yakni meningkatkan kelembagaan melalui Sustainability Management System atau SMS secara berkelanjutan, terkait isu masih rendahnya produksi dan produktivitas karena kurangnya penguatan kelembagaan.
Lalu, meningkatkan klasifikasi kebun. Baik perkebunan rakyat maupun perkebunan swasta, sekaligus memfasilitasi konflik lahan perkebunan antara perusahaan dengan masyarakat.
Sedangkan program ketujuh, program meningkatkan pemberantasan hama penyakit untuk tanaman perkebunan karet dan kelapa sawit, seperti penyakit cendawan akar putih, cendawan akar merah, dan jenis penyakit lainnya.(mpr/alf)