Keluarga dan Rekan Fahrur Raji kecewa Dengan Tindakan Gegabah Polisi
PASIRPENGARAIAN- Keluarga Fahrur Raji (36), Guru Bantu (GB) Provinsi Riau ditembak polisi Rabu sekitar pukul 02.30 wib dini hari, di dusun Wonorsi Timur, Desa Koto Tinggi, tepatnya di Belakang Kantor DPRD Rokan Hulu (Rohul), kecamatan Rambah mengaku kecewa dengan tindakan represiv Polisi. Langsung menembak Fahrur Raji dengan mengenyampingkan azaz praduga tak bersalah.
Kekecewaan itu diungkapkan Azmi, kakak Fahrur Raji , yang dijumpai di RSUD Pasir Pengaraian saat menjenguknya di Ruang VIP kamar No 3.
Dalam kesempatan itu, Azmi megatakan, seharusnya polisi memiliki aturan yang jelas, dalam penggunaan senjata api untuk menangkap seseorang. Apalagi hingga saat ini belum jelas tindak kejahatan apa sebenarnya yang dilakukan Fahrur Raji saat kejadian itu.
Dari pengakuan Azmi yang melihat langsung kondisi Fahrur Raji, mengalami 3 luka tembakan masing-masing 2 luka tembak dibetis kanan dan kiri Serta satu luka tembak, di bagian paha. Selain itu, dirinya belum bisa menanyakan langsung kepadanya bagaiaman cerita sebenarnya tentang kejadian tersebut karena hingga saat ini kondisi korban belum bisa diajak komunikasi, karena belum sadar sepenuhnya.
Terlepas dari itu, Azmi juga mempertanyakan mengapa Polisi langsung mengambil langkah represiv hingga langsung menembak Fahru Raji sampai tiga kali. Padahal pada saat itu, belum diketahui tindak kejahatan apa sebenarnya, yang telah dilakukannya. "Tindak kejahatan apa, yang sebenarnya telah dilakukan adik saya sampai sekarang pun belum jelas, tapi kok langsung ditembak, sampai tiga kali lagi, kalau menembak orang itu kan ada aturanya, saya sangat kecewa sekali dengan tindakan represiv yang di lakukan penegak hukum ini," tutur Azmi.
Azmi juga membatah jika adiknya Fahru Raji pernah menuntut ilmu hitam sesuai rumor yang berkembang kalau adiknya di tangkap saat dalam kondisi tidak wajar, tidak benar, adik saya tidak pernah menutut ilmu hitam," tegasnya.
Ketika ditanya apakah akan ada upaya hukum atas kejadian ini, Azmi menyatakan pihak keluarga untuk sementara ini belum memikirkan upaya tersebut dan hanya fokus untuk penyumbuhan Fahrur Raji.
Kekecewaan yang sama juga diutarakan Kepala Sekolah SMAN 1 Rambah Samo Poinum atasan Fahrur Raji ia mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami mitranya di SMAN 1 Rambah Samo. "Karena tindakan ini banyak yang dirugikan, termasuk anak-anak kami yang belajar biologi dengan Fahru Raji otomatis terhenti. Kami menilai tindakan polisi yang langsung menembaknya, tidak tepat, karena pada saat itu, Fahrur Raji belum atau apa tindak kejahatannya atau apa yang sebenarnya telah dilakukannya," beber Ponimin.
"Saya menilai tindakan polisi kurang tepat, seharusnya polisi mengedepankan azaz praduga tak bersalah, beliau ini kan belum terbukti tindakan kejahatan apa yang dilakukanya, jadi jangan terlalu represivlah," tutupnya
Beri Support Ratusan Guru Besuk FR Guru Bantu yang di tembak Polisi
Pintu Kamar nomor tiga Ruang VIP Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Rohul, masih tertutup rapat serta dijaga ketat aparat kepolisian hingga Kamis (17/9), para juru warta, tetap tidak diperbolehkan masuk untuk menjenguk dan mengabadikan, bagaimana sesungguhnya kondisi Fahrur Raji, di dalam tubuhnya, masih bersarang 3 proyektil peluru yang ditemba polisi.
Di rumah sakit, hanya terlihat puluhan guru, teman-teman se provisi Fahrur raji yang datang untuk menjenguk dan memberikan support pria berusia 36 tahun tersebut. para juru warta hanya bisa mengatahui kondisi Fahrur Raji sebenarnya kepada guru yang datang menjenguk "Kodisinya masih tidak sadarkan diri, matanya sesekali terlihat terbuka sedih kita melihatnya," ujar salah seorang Guru yang menjenguk saat keluar dari ruang perawatan.
Kepala sekolah SMAN 1 Rambah Samo Poinum yang ditemui saat menjenguk Fahrur Raji mengaku, tidak mengetahui apa sebenarnya tindak pidana yang menyebabkan, sehingga anggotanya itu harus di tembak Polisi.
Poinum mengaku, dirinya bersama pihak sekolah sudah datang menayakan langsung kepada Kapolsek Rambah AKP Masjang, namun dari keterangan Kapolsek, Fahrur Raji hanya mengalami luka-luka, padahal faktanya mengalami luka tembakan. "Kita mendapatkan informasi dari majlis guru teman kita ada mengalami musibah, katanya tertembak, tetapi kita kroscek ke Polsek Rambah, kapolsek menyatakan hanya luka-luka, seperti itu, tidak dinyatakan guru kita itu tertembak," ungkap Poinum
Lanjutnya, dalam kunjungan silaturahmi itu, Kapolsek Rambah tidak memberitahukan secara rinci, tindak kejahatan apa yang sudah di lakukan Fahrur Raji, karena saat dimintai keterangan masih dalam keadaan tidak stabil dan meracau-racau. "Beliau hanya mengatakan yang jelas korban kita obati dulu, kita akan tempatkan di ruangan yang baik, artinya difasilitasilah," Poinum menirukan penjelasan Kapolsek Rambah.
Fahru Raji ditemukan Warga seperti Orang dalam Kondisi Kesurupan
Kepala sekolah SMAN 1 Rambah Samo, Poinum, mengkroscek Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan menanayakan kejadian yang menimpa Fahru Raji. Dari informasi warga di sana, Fahru Raji ternyata ditemukan warga dalam kondisi seperti orang kesurupan.
Menurut Kepala Sekolah SMAN 1 Rambah Samo dari hasil penelusuranya di lapanagan, dirinya menemui 2 orang yang melihat pertama kali melihat Fahru Raji saat kejadian. "Satu orang warga melihat Fahrur Raji menceritakan, awalnya korban lari dari jalan penurunan di Depan SMA 1 (Jalan Panglima Sulung), warga itu heran, tidak ada yang mengejar tetapi kok orang ini lari, kemudian ditengoknya orang tersebut (diduga-FR) belok kerumah dekat rumah warga, karena curing lantas kemudian warga mencari kebearadaannya,” kata Poinum menirukan ceritra saksi yang melihat Fahrur Raji pertama kali
Kedua warga yang melihat Fahru Raji pertama kali di Tempat Kejadi Peristiwa (TKP) kemudian berbagi tugas, seorang warga mencari ke arah kebelakang, dan yang satunya lagi menelusuri jalan sambil membangunkan warga untuk membantu mencari Fahru Raji.
Kemudian, setelah mencari selama setengah jam, warga pun tidak menemukan Fahru Raji, mereka pun berniat untuk membubarkan diri. ketika hendak bubar, warga curiga ada sesuatu yang aneh dipagar salah satu rumah warga, warga pun kemudian mengecek dan menemukan Fahru Raji tengah dalam kondisi bersujud dengan kedua tangan rapat mengepal ke kening. "Ternyata dibalik pagar itu Fahrur Raji, saat itu Fahrur Raji dalam kondisi seperti orang kesurupan, tangan terkepal dan ditaruk di kening seperti orang sujud, bahkan dipraktekan langsunglah sama orang itu, Setelah ditemukan, Fahrur Raji kemudian dibawa masyarakat, dia tak mau membuka kepalan tanganya," sambung Poinum.
Setelah Fahrur Raji berhasil diamankan, salah seorang warga kemudian menghubungi Polsek Rambah untuk datang ke TKP. Setelah polisi sampai ke TKP, Fahrur Raji tiba-tiba saja berusaha menyuruduk warga, lalu kemudian bunyilah suara tembakan peringatan. "Saya tanya neyruduk-nyeruduk bagaimana, sementara tanganya terkepal, dari informasi kapolsek yang bersangkutan mau menggapai senjata tajam yang dibawa warga, tapi faktanya kita tak tahu," ungkap Poinum.
Menurut pengakuan warga yang ditanyai Poinum, Fahrur Raji pertama kali ditembak dibagian jempol kakinya, kemudian razi makin bringas, sehigga memancing warga sehingga Fahrur Raji dihajar warga dan setelah itu mungkin 3 tembakan tambahanya yang bersaran dibetis, kanan kiri dan paha. Setelah dilumpuhkan Fahru Raji kemudian langsung dilakrikan ke RSUD," ujar Poinum
Ketika ditanyakan kepada Poinum apakah Fahrur Raji menuntut ilmu hitam, Poinum menjawab tidak tahu. Karena selama mengenal Fahrur Raji, ia dikenal sebagai sosok yang ramah, pendiam, bertanghung jawab terhadap tugasnya dan tidak pernah kles dengan sesama guru dan juga muridnya
Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui apa sebenarnya yang dilakukan Fahrur Raji di TKP hingga dini hari, karena yang bersangkutan belum sadarkan diri. Sementara apa tindak kejahatan apa yang dilakukan Fahrur Raji sehingga polisi langsung menembak Fahrur Raji hingga beberapa kali juga belum dapat di konfirmasi karena pihak Polsek Rambah dan juga Polres Rohul masih enggan memberikan klarfikasi mengenai kejadian ini.(dpr/raj)